Jl. Dewi Sartika Gg Al-Khasiyun No. 22 Kel, Cipayung, Ciputat
0813-9527-8802

24/7 Customer Support

Call: 0813-9527-8802

Free Shipping Jakarta

Call us for information

Money Back Guarantee

45 days return Service

I can say without doubt that your team are a true pleasure to work with. They are easy to communicate with which make process smooth. Highly recommended.

Vijay , ABC infotech

  • Vijay
  • Joth Soe
  • Willium Smith
  • Lora smith

Exclusive This Month

Join 100,321 Happy readers And Get Access To Our Entire Collection Of 1000 ebooks For The Price Of One

We offer a 45 Day Money Back Guarantee, so joining is risk-free!

 
Sign Up Today

New arrivals

Featured Products

staff picks

Latest from our blog

We love to share our thoughts

Novel ini tidak ingin hanya menceritakan kisah seseorang yang jatuh sakit, lalu sembuh secara jasmani saja melainkan yang lebih dahsyat adalah kesembuhan ruhani dan cahaya yang menyinari jiwa memantulkan cahaya kebaikan di sekelilingnya. Ini merupakan perjalanan ruhani dari gelap menuju cahaya, dari luka menuju makna, dari kelelahan menuju ketenangan, dari kesakitan menuju kesehatan.

Rafi, tokoh utama dalam kisah ini, adalah cermin dari banyak jiwa yang pernah lelah, tapi tetap mencari alasan untuk bersyukur. Ia bukan tokoh sempurna. Ia manusia biasa yang diajar oleh waktu untuk menjadi lebih manusiawi.

Rafi yang seorang guru swasta sekaligus sosok yang cinta ilmu pengetahuan dan berjiwa religi menjadi orang yang kuat dengan tempaan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan dari pesantren dan bangku kuliahnya. Dari semua itu, ia menyadari bahwa kesembuhan bisa datang dari banyak tangan yang mengasihi dari langit dan dari bumi, dari Tuhan dan dari sesama.

Kisah ini mengajak pembaca untuk memandang sakit dengan kacamata baru. Sakit bukan musuh, tapi guru yang lembut. Ia mengajarkan kita cara mendengar, menunduk, berterima kasih, dan mencintai Tuhan tanpa syarat.

Semoga kisah ini menjadi pelukan yang menenangkan. Sebab hakikatnya, setiap luka memiliki hikmah, dan setiap perih selalu mengandung rahasia tersembunyi. Semoga buku ini bukan hanya menjadi cerita, tapi menjadi cermin, cermin yang memantulkan bahwa di balik setiap derita, ada cinta yang sedang menyamar dari langit.

Surat Cinta dari Langit
SKU Surat_Cinta_dari_Langit
0

Perjalanan sejarah Maluku Utara secara esensial tidak dapat dipisahkan dengan empat kesultanan yakni Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Dalam terminologinya, empat kesultanan tersebut sering disebut dengan Jazirah Al-Muluk (semenanjung para raja), atau Moloku Kie Raha (Maluku empat gunung). Keempat kesultanan tumbuh dan berkembang dalam periode yang sama dengan ruang teritori yang korelatif.

Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan dalam konteks historis memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat bahkan dalam konteks kronik memiliki hubungan saudara kandung. Dalam kedudukan struktur pemerintahan empat kesultanan terdapat persamaan pada jabatan-jabatan dan tugas serta fungsi.

Disusun dalam delapan bab, buku ini menyajikan sejarah menarik proses pembentukan keempat kesultanan tersebut serta bagaimana perkembangan sistem pemerintahannya diterapkan dan dijalankan. Dari mulai struktur pemerintahan, tata cara pemilihan dan pengangkatan sultan, hingga peran agama dan budaya/adat.

Digambarkan pula kondisi dinamika politik dan kompetisi perdagangan yang berlangsung, terutama saat kolonilisme Eropa memasuki wilayah Maluku, dan diuraikan juga jejak arkeologis peninggalan kepulauan Bacan. Khazanah warisan tata pemerintahan keempat kesultanan ini dalam konsteks saat ini, dapat menjadi nilai kearifan lokal yang dapat menginspirasi bagi bangsa, sambil tetap beradaptasi dengan setiap perubahan zaman dewasa ini seiring berjalannya demokrasi di negeri ini.

Sejarah dan Struktur Pemerintahan Empat Kesultanan Moloku Kie Raha
SKU Sejarah_dan_Struktur_Pemerintahan_Empat_Kesultanan_Moloku_Kie_Raha
0

Buku tentang sejarah dan corak budaya lokal wilayah timur Indonesia, bisa dikatakan masih belum banyak. Kehadiran buku ini, setidaknya, menambah sudut pandang baru tentang kekayaan warna lain dari corak budaya Nusantara dengan menampilkan local wisdom dari timur Indonesia, yaitu dari sebuah desa bernama Desa Sidanga yang terletak di kepulauan Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan. Desa ini berada di Selat Hatta, diapit deretan pulau yang indah dikelilingi gunung bukit hijau.

Ditulis oleh para putra daerahnya, buku ini merekam jejak perkembangan sejarah Desa Sidanga dalam berbagai aspeknya. Sebagaimana dituturkan oleh penulisnya, buku ini sekaligus sebagai panggilan untuk mewujudkan Desa Sidanga sebagai “Kampung Pluralisme”. Hal ini mengingat, potensi ragam budaya tumbuh di dalamnya sehingga perlu untuk terus dipupuk benih toleransi dan harmoni di tengah berbagai perbedaan tersebut.

Masyarakat daerah ini umumnya hidup dari pertanian dan hasil laut. Usaha cocok tanam adalah pekerjaan yang terlamunkan sejak dulu hingga sekarang. Laut menyimpan kekayaan yang besar dan mereka telah menggarapnya berupa berbagai jenis ikan serta hasil-hasil lainnya seperti mutiara, rumput laut, udang, siput, teripang, cumi-cumi, kerang. Teluk Hatta dan Sidanga bukan saja indah, tapi bermakna. Penduduk asli, sekaligus awal masyarakat Desa Sidanga adalah orang Tobelo Galela (Togale) dari Halmahera Utara. Sebagai cikal bakal awal datanglah seorang yang bernama Tarusi.

Warga Desa Sidanga dikenal religius dan hidup toleran. Islam masuk dan hadir secara damai, diterima secara adaptif dan akomodatif dengan budaya sebelumnya tanpa konfrontasi yang berarti. Watak damai dan harmoni ini menjadi modal bergarga dan menunjang kehidupan yang lebih baik di berbagai bidang, sejak pendidikan, agama, sosial, ekonomi hingga keamanan warga. Masjid menjadi pusat kegiatan warga, baik sebagai pusat ibadah, juga sebagai pusat perekat harmoni dan kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Napaktilas Desa Sidanga: Masjid, Religiusitas, dan Harmoni Budaya di Tanah Saruma Halmahera Selatan
SKU Napaktilas_Desa_Sidanga__Masjid__Religiusitas__dan_Harmoni_Budaya_di_Tanah_Saruma_Halmahera_Selatan
0

Buku ini menyajikan gambaran mengenai keluhuran budaya Ternate dan Tidore. Kedua daerah ini dahulu dikenal sebagai pusat kesultanan Islam. Kekayaan dan keindahan alamnya telah memikat para penjajah untuk mendatangi dan mengeruk keuntungan darinya. Ternate dikenal dengan sebutan Limau Gapi yang bermakna negeri puncak tertinggi, sementara Tidore dikenal dengan Limau Duko yang bermakna pulau yang bergunung api.

Kedua daerah ini memiliki nilai-nilai budaya yang religius, memadukan secara harmoni hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), sesama manusia (habun minannas), dan hubungan dengan alam sekitar. Kalimat Jou se Ngofangare yang bermakna Engkau (Tuhan) dan aku (rakyat), menjadi akar budi budaya Ternate dan Tidore, sebagai simbol, ritual dan tindakan sosial. Di dalam kalimat itu, ada ide, cipta dan rasa. Ketiganya membingkai budaya tutur orang Ternate dan Tidore.

Buku ini melukiskan ekspresi keislaman di Ternate dan Tidore yang mengandung unsur perpaduan dengan budaya setempat sebagai bentuk kearifan lokal. Mula-mula melalui kontak perdagangan, pertemuan berbagai budaya dan agama tak terhindarkan sejak dulu, dan semua dapat hidup berdampingan secara damai di bawah Kesultanan Ternate dan Tidore. Dengan suku, etnis serta ras yang beragam, itu menjadi penanda adanya keragaman tutur pola kata dan pola tradisi dalam berpemahaman tentang Islam di wilayah Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore..

to-sela-sela-limau-gapi-to-sela-sela-lima-duko
SKU To_Sela-sela_Limau_Gapi_To_Sela-sela_Lima_Duko__Jou_se_Ngofangare___Falsafah_dan_Akar_Budi_Ternate-Tidore
0
Page 1 of 3