Buku ini menyajikan gambaran mengenai keluhuran budaya Ternate dan Tidore. Kedua daerah ini dahulu dikenal sebagai pusat kesultanan Islam. Kekayaan dan keindahan alamnya telah memikat para penjajah untuk mendatangi dan mengeruk keuntungan darinya. Ternate dikenal dengan sebutan Limau Gapi yang bermakna negeri puncak tertinggi, sementara Tidore dikenal dengan Limau Duko yang bermakna pulau yang bergunung api.
Kedua daerah ini memiliki nilai-nilai budaya yang religius, memadukan secara harmoni hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), sesama manusia (habun minannas), dan hubungan dengan alam sekitar. Kalimat Jou se Ngofangare yang bermakna Engkau (Tuhan) dan aku (rakyat), menjadi akar budi budaya Ternate dan Tidore, sebagai simbol, ritual dan tindakan sosial. Di dalam kalimat itu, ada ide, cipta dan rasa. Ketiganya membingkai budaya tutur orang Ternate dan Tidore.
Buku ini melukiskan ekspresi keislaman di Ternate dan Tidore yang mengandung unsur perpaduan dengan budaya setempat sebagai bentuk kearifan lokal. Mula-mula melalui kontak perdagangan, pertemuan berbagai budaya dan agama tak terhindarkan sejak dulu, dan semua dapat hidup berdampingan secara damai di bawah Kesultanan Ternate dan Tidore. Dengan suku, etnis serta ras yang beragam, itu menjadi penanda adanya keragaman tutur pola kata dan pola tradisi dalam berpemahaman tentang Islam di wilayah Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore..
| Penulis |
Usman Nomay |
|---|---|
| Cetakan |
I, 2025 |
| Ukuran |
14,5 x 21 cm |
| Tebal |
252 halaman |
| Penerbit |
Media Kalam |
| ISBN |
Dalam proses pengajuan |
| Dimension (L x W x H) | 0 x 0 x 0 |
| Weight | 0 |